Pages

Tampilkan postingan dengan label kisah petani sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah petani sukses. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2016

Panen Duit dari Berkebun Sayur

Panen Duit dari Berkebun Sayur  

SENIN, 12 MARET 2012 | 14:13 WIB
Panen Duit dari Berkebun Sayur  
Sayur-sayuran. Chinanews.com
TEMPO.COCiwidey - Kicau burung di tengah udara sejuk kampung Gambung, Desa Mekarsari, Ciwidey, Jawa Barat, menemani Riswati Wahyuni saat menengok perkebunan yang ia rintis sejak 2003 lalu. “Di sini kebun tomat saya,” ujar Riswati kepada Tempo saat berkunjung ke kebun yang diisi tomat-tomat merah siap panen miliknya, Sabtu, 10 Maret 2012.

Teh Neng--sapaan akrab Riswanti--memiliki beberapa kebun sayuran yang tersebar di desa tersebut. Dia mengaku sudah merasakan manfaat dari usaha bercocok tanam yang ia mulai dengan modal Rp 3 juta itu.

Awalnya Riswanti tidak pernah berpikir akan menuai sukses dari bisnis agrobisnis seperti sekarang. “Dulu saya cuma ingin berkebun, tidak kepikiran sampai seperti ini,” katanya.

Usaha yang didirikan wanita 28 tahun itu kini mampu bersaing dengan perkebunan lain untuk menyuplai sayur-sayuran di gerai-gerai retail modern di Ibu Kota. “Sekarang sudah ada sekitar 13 gerai yang kami suplai di Jakarta,” katanya semringah.
 


Perjalanan bisnis Riswanti dapat menjadi contoh bagi para petani lain. Mengawali karier bisnisnya dengan menjual hasil kebunnya ke pasar-pasar tradisional dan induk, kini Riswanti bahkan dapat mengekspor hasil kebunnya ke berbagai negara, “Kemarin terakhir ke Singapura,” katanya.

Mengawali bisnis setelah keluar dari salah satu universitas di Garut, Riswati berusaha mencari penghasilan sendiri untuk membantu kedua orang tuanya. “Saya keluar karena ingin menikah,” katanya tertawa. Dengan modal Rp 75 ribu dia mulai menanam nangka, yang buahnya dijual kepada orang-orang di sekitar desanya.

“Waktu itu belum ada uang untuk membuka lahan,” katanya. Setelah memiliki tabungan sendiri, Riswati membeli sepetak lahan dengan modal Rp 3 juta yang kemudian ia tanami bermacam sayuran. Awalnya cuma sayuran lokal. Ia belum mengenal sayuran dengan bibit impor. Riswati juga belum tahu bagaimana cara bercocok tanam yang benar.

Setelah 3 tahun berjalan usaha bercocok tanam Riswati mulai berkembang. Saat itu dia mempekerjakan 4 orang untuk membantu mengelola kebun yang ia miliki. Waktu itu Riswati memiliki omzet hingga Rp 20 juta setiap bulan. “Dari pasar induk dan tradisional saya mendapat omzet tertinggi hingga Rp 10-20 juta per bulan,” katanya.

Namun pemasukan yang diterima Riswati tidak cukup untuk mengelola satu kebun, pekerja, dan menjadi mata pencarian untuk hidup sehari-hari. “Selain sulit, hama dan gagal panen juga sangat mengganggu,” katanya.

Riswati mengaku saat itu dia hampir putus asa mengembangkan kebunnya. “Lama-kelamaan merugi, saya cukup putus asa,” katanya. Namun pada 2006 sekelompok mahasiswa dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) berkunjung ke desa Mekarsari untuk berbagi ilmu kepada penduduk desa.

Adalah Adityo Wicaksono, Siti Ruby Aliya Rajasa, dan Mandala Widi Muchlis yang memprakarsai gerakan tersebut, yang kemudian dikenal dengan Satoe Indonesia (SI). “Satoe Indonesia adalah gerakan kepemudaan yang didirikan oleh mahasiswa SBM ITB dan para alumnus,” kata Widi.

Dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang mereka dapatkan di bangku kuliah, Widi dan kawan-kawan berusaha membantu warga desa Mekarsari dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki. “Kami fokus pada pengembangan bisnis dan pendidikan,” kata Widi.

Setelah setahun melakukan survei, ia menjelaskan, pada 2007, SI meluncurkan program pertamanya, yaitu mobil pintar. Minibus yang disulap menjadi perpustakaan berjalan ini mengelilingi Desa Mekarsari dan sekitarnya setiap hari. Membawa ratusan buku hasil sumbangan berbagai pihak dan pemerintah, mobil ini ramai dikunjungi anak-anak desa.

“Respons mobil pintar ini positif, kemudian kami lanjutkan dengan membangun rumah pintar di dua kampung,” kata Widi. Saat ini rumah pintar sudah dibangun di dua kampung, yaitu kampung Papakmanggu dan Gambung. Rumah pintar ini tidak hanya tempat belajar bagi anak-anak, tapi juga orang tua mereka.

“Di sini kami mengajarkan semua pelajaran yang anak-anak dapat di sekolah, lalu menambahnya dengan permainan, bahasa Inggris, Internet, soft skill, dan proses belajar-mengajar yang menyenangkan,” kata Adityo. Sedangkan untuk orang tuanya Adityo dan kawan-kawan mengajarkan cara berbisnis dan mengembangkan usaha.

Manfaat rumah pintar diakui Resti. “Di sini belajarnya menyenangkan. Saya jadi bisa bahasa Inggris, pakai Internet, dan membuka wawasan," kata gadis 12 tahun ini, "Sekarang saya mau melanjutkan pendidikan hingga lulus kuliah.”

Tahun ini SI bekerja sama dengan Bank HSBC meluncurkan program Ciwidey Pintar pada Sabtu, 10 Maret 2012. “Program ini adalah salah satu bentuk dari corporate social responbility yang bertujuan untuk mengatasi kurangnya sarana pendidikan pada usia dini,” ujar Head of Communications & Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Maya Rizano, saat peluncuran Ciwidey Pintar di kampung Gambung.

“HSBC memiliki program HSBC Future First yang berfokus pada pendidikan dan pengembangan bisnis yang sudah dijalankan dari 2006 di berbagai negara. Sekarang kami lakukan hal tersebut di Ciwidey,” ujar Maya.

HSBC berharap, dengan program ini warga Ciwidey dan sekitarnya dapat berkembang dan mandiri secara ekonomi. “Kami harus memaksimalkan potensi yang ada pada desa ini dan mengubah mindset masyarakat desa agar tidak lagi berpikir bahwa Ibu Kota adalah tempat untuk mencari uang,” kata Maya.

Widi bersyukur lahirnya kerja sama antara SI dan Bank HSBC ini. “Akhirnya kami menemukan partner yang sesuai dengan visi dan misi SI,” ujarnya.

Peluncuran Ciwidey Pintar dilakukan secara sederhana di pekarangan Rumah Pintar di kampung Gambung. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Wahyudin Zarkasyi, dan Puteri Indonesia 2011 Maria Selena.

Wahyudi, dalam kesempatan itu, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada SI dan Bank HSBC. Sebab, mereka telah melakukan sebuah gerakan yang sangat membantu Jawa Barat dalam mengembangkan pendidikan di desa-desa. “Kegiatan seperti ini memang harus sebanyak mungkin dilakukan. Sebab, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan keluarga,” katanya.

Sementara itu Maria Selena berharap dengan adanya kegiatan ini anak-anak di desa dapat lebih mengembangkan diri dalam hal pendidikan, kesenian, dan olahraga. “Agar banyak yang dapat mengharumkan nama bangsa,” ujarnya.

Lewat Rumah Pintar yang dirintis SI, Riswati belajar mengelola kebun dan mengembangkan usaha perkebunan yang ia miliki. “Saya diajarkan cara menanam yang baik, menetapkan kualitas tanaman, dan dibantu dalam mengembangkan pasar,” kata Riswati.

Ia mengakui pada awalnya sebagian besar warga kampung merasa tidak nyaman dengan kedatangan Rumah Pintar di kampung Gambung. Sebab, anak-anak mereka lebih banyak bermain ke Rumah Pintar daripada ke sekolah dan di rumah. Hal ini diakui Widi. "Tapi, kami lakukan pendekatan yang intensif dan menjelaskan tujuan kami,” ujarnya.

Kini, setelah melihat kesuksesan yang diraih Riswati dan 15 petani lainnya, warga Desa Mekarsari sangat mendukung program Rumah Pintar. Saat ini Riswati memiliki kebun seluas 5 hektare yang ia tanami berbagi macam sayuran. “Di kebun saya sekarang, selain sayuran lokal, juga ada sayuran eksklusif, seperti paprika, labu Jepang, dan banyak lagi,” kata Riswati semringah.

Semua itu ia dapatkan setelah mendapat pelatihan yang diadakan SI sejak ia bergabung dua tahun lalu. “Saya diberikan kesempatan magang di berbagai tempat. Dari sana saya belajar cara mengembangkan bisnis, menanam yang benar, dan menjaga mutu kualitas hasil tanam,” kata Riswati.

Di desa seluas 5.306 hektare, yang 68 persen wilayahnya merupakan hutan, kini Riswati menjabat sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani. Ia membawahkan sekitar 150 petani dan mengelola 60 hektare kebun kemitraan. “Kebun itu tersebar di Indramayu, Garut, dan kabupaten-kabupaten lain,” katanya.

Dengan produksi yang terus meningkat, sekarang Riswati dapat memasok hingga 2 ton sayuran setiap hari. “Tergantung pada permintaan, tapi rata-rata segitu untuk beragam toko sayur dan retail,” ujarnya. Dengan meningkatnya bisnis yang ia kelola, kini Riswati telah mempekerjakan sekitar 26 orang dan mendapat omzet Rp 50-70 juta setiap bulan.

“Alhamdullilah dengan bantuan semua pihak saya bisa berkembang seperti sekarang. Warga desa juga mulai mengubah pemikirannya dan lebih mementingkan pendidikan,” ujar Riswati.

NANDA SUGIONO

Selasa, 06 September 2016

Kisah Sukses Petani Kangkung-Petani Kangkung Kuwarasan Kebumen

Kisah Sukses Petani Kangkung-Petani Kangkung Kuwarasan Kebumen-Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) adalah tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran dan ditanam sebagai makanan. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.

Ada dua bentuk kangkung air yang dijual di pasaran. Yang pertama adalah kangkung berdaun licin dan berbentuk mata panah, sepanjang 10–15 cm. Tumbuhan ini memiliki batang berongga yang menjalar dengan daun berselang dan batang yang menegak pada pangkal daun. Tumbuhan ini bewarna hijau pucat dan menghasilkan bunga bewarna putih, yang menghasilkan kantung yang mengandung empat biji benih. Jenis kedua adalah dengan daun sempit memanjang, biasanya tersusun menyirip tiga.( https://id.wikipedia.org/wiki/Kangkung )

Selain kangkung air, ada juga kangkung darat. Kangkung darat cukup mudah cara menanam dan perawatannya. Kangkung darat juga sangat digemari oleh para petani maupun pengonsumsi.

Sahabat Pembaca, di beberapa desa wilayah Kecamatan Kuwarasan banyak sekali pemilik sawah yang memanfaatkan lahan sawahnya untuk budi daya kangkung air maupun kangkung darat. Budi daya kangkung memang sangat menguntungkan karena biaya produksinya relatif sedikit, cara perawatannya cukup mudah, dan pemasarannya juga sangat gampang.


Kangkung Air
Kangkung Air-Kuwarasan Kebumen

Dengan adanya budidaya kangkung di Kecamatan Kuwarasan, para petani kangkung dapat sukses. Selain itu, para buruh tani, dan pedagang kangkung pun ikut sukses.

Jika kangkung sudah siap dipetik/dipanen, aktivitas memetik/bruwun kangkung di lhan peraswahan daerah Kuwarasan hampir tidak mengenal waktu. Sejak pukul 19.00 sampai 07.00 WIB sering dijumpai para buruh pemetik kangkung yang sedang asyik dan gigihnya dalam memetik kangkung.

Pemetikkan kangkung seringnya dilakukan pada malam hari karena pagi harinya langsung di bawa ke pasar-pasar tujuan baik oleh petaninya langsung maupun oleh para tengkulak. Bahkan sering juga para tengkulak menunggu di area pertanian kangkung yang selanjutnya kangkung-kangkung yang sudah diikat/diuntil oleh para buruh petik langsung dibawa ke pasar oleh para tengkulak lokal maupun non lokal.

Kangkun Kuwarasan sangat enak sehingga terkenal juga. pemasaran kangkung Kuwarasan, selain di jual di pasar wilayah Kecamatan Kuwarasan seperti pasar Kebrek Kuwarasan, pasar Purwogondo, pasar Ori, dan lain-lain, kangkung Kuwarasan juga laku keras hampir di semua pasar wilayah Kabupaten Kebumen. Selain itu, juga banyak para tengkulak yang menjualnya di pasar Kabupaten tetangga seeperti Kabupaten Cilacap, banyumas, dan Purworejo.

Demikian sekilas tentang Kisah Sukses para Petani Kangkung. Semoga bermanfaat
sumber: http://www.infocarabisnis.com/2016/01/kisah-sukses-petani-kangkung.html

Kisah Sukses Sugiyanto, Petani Melon yang Raup Untung Rp45 Juta Sekali Panen

Kisah Sukses Sugiyanto, Petani Melon yang Raup Untung Rp45 Juta Sekali Panen



Pasuruan (wartabromo) – Menanam buah melon bisa menjadi pilihan para petani di perkotaan. Sugiyanto, petani melon di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, membuktikan bisa sukses “tandur” melon.
Sugiyanto yang menanam buah melon di atas lahan seluas 0,5 hektare, mampu menghasilkan 18 ton buah melon sekali panen atau mengalami peningkatan 15 persen dari kebiasaaan yang hanya mencapai 11 ton dalam sekali panen.
“Kebetulan cuacanya bersahabat, dalam arti hujannya tidak terlalu deras, dan ada musim kemaraunya, sehingga membuat perkembangan buah bagus,” kata Sugiyanto saat panen melon di kebunnya, Selasa (30/8/2016).
Cerita sukses tersebut dipaparkan Sugiyanto di depan Wali Kota Setiyono yang mengapresiasinya dengan ikut memanen melon di kebunnya. Setiyono hadir bersama istri, Rini Setiyono dan Kepala Dinas Pertanian Kota Pasuruan Asep Suryatna, serta puluhan warga sekitar.
Menurut Sugiyanto, selain faktor cuaca, peningkatan jumlah produksi melonnya juga didukung oleh penggunaan pupuk yang berimbang, baik organik maupun pestisida. Untuk pupuk organik cukup menggunakan kotoran kerbau atau sapi maupun kotoran hewan lainnya. Begitu juga dengan pestisida yang digunakan untuk penyemprotan hama dan ulat-ulat di daun dan batang tanaman.
“Kalau untuk menambah kesuburan tanaman pasti menggunakan pupuk organik, tapi kalau untuk mengantisipasi adanya hama dan ulat yang selalu menyerang buah, saya menggunakan pestisida,” imbuhnya.
Lebih lanjut Sugiyanto menambahkan bahwa jumlah tanaman melon yang ditanam di lahan miliknya berjumlah 4500 tanaman dan 16 varietas melon, seperti Madesta, Gracia, Golden Melon, Rock Melon serta varietas lainnya. Hanya saja, dari banyaknya varietas tersebut, jenis melon yang paling banyak diminati adalah Gracia dan Rock Melon.
“Kalau Gracia buahnya bisa sampai 5 kg, sehingga memberikan keuntungan paling banyak. Sekali panen, saya bisa meraup keuntungan hingga Rp 45 juta, dan itu merupakan keuntungan bersih. Apalagi sekarang harga melon lagi tinggi-tingginya, yakni mencapai Rp 9 ribu per satu kilogram,” terangnya.
Wali Kota Setiyono mengaku sangat bangga melihat keberhasilan Sugiyanto dalam mengembangkan melon dengan biaya sendiri, akan tetapi hasil produksinya memuaskan.
“Keberhasilan Pak Sugiyanto dalam mengembangkan tanaman melon ini dapat menjadi contoh bagi petani lainnya di Kota Pasuruan. Kalau bisa semua petani bisa belajar kepada Pak Sugiyanto, sehingga banyak masyarakat yang menanam melon, tidak hanya padi saja,” kata Setiyono.
Ia berharap tanaman melon tersebut dikembangkan secara lebih luas lagi oleh para petani seluruh Kota Pasuruan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan bagi petani.
“Kultur tanah dan iklim cuaca di Kota Pasuruan mampu menjadikan tanaman melon tumbuh subur,” terangnya.
Ternyata, sebut Setiyono, hasil yang didapatkan bila dibanding dengan menanam padi adalah jauh sekali. “Maka dari itu, saya ajak semua petani di Kota Pasuruan, untuk beramai-ramai memanen melon, buah naga, atau anggur, karena menurut penelitian, kultur tanah di Kota Pasuruan sangat ideal untuk menanam melon, anggur dan buah naga,” jelasnya. (mil/fyd)
sumber: http://www.wartabromo.com/2016/08/31/kisah-sukses-sugiyanto-petani-melon-yang-raup-untung-rp45-juta-sekali-panen/

Minggu, 04 September 2016

Petani istiqamah beromset Rp 50 Milyar

      Cerita soal petani tidak semuanya mengenaskan. Ada pula yang menggembirakan, bahkan membanggakan. Tengok saja H Bambang Sumadji HS, petani dari Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri Jawa Timur.
    Ia dikenal sebagai petani sukses. Bayangkan, sebulan ia bisa meraup omset Rp 50 milyar! Memang hasil itu tidak semuanya diperoleh dari hasil pertanian, melainkan juga dari pabrik dan bank. Namun pertanian, utamanya bawang merah dan cabe, tetap menjadi basis utama usaha pria berumur 49 tahun itu.
         Sosoknya sebagai petani yang sukses, sangat dikenal luas. Cobalah tanya kepada pedagang di pasar Pare, hampir semua mengenalnya. "Kalau sampean (Anda) ingin informasi lengkap soal bawang merah dan cabe, tanya saja langsung kepada Pak Haji Bambang, karena dia sudah dikenal luas sebagai petani yang sukses dan banyak mensuplai pasar lokal maupun luar daerah," ujar Muhammad Abdullah Zaman (55) maupun Musni (60), pedagang bawang merah di pasar Pare.
        Kisah suksesnya dimulai tahun l977. Saat itu, ia mengambil kredit dari Bank BNI sebesar 1,5 juta. Uang itu digunakan menanam bawang merah di atas lahan sewaan seluas 1 hektar. Hasilnya ternyata sangat baik. Sekali panen 7 ton, dijual dengan harga Rp 150 per kilogram (sekarang Rp 6.000). Dalam satu tahun ia bisa panen tiga kali. Itu artinya ia meraup hasil 3,15 juta rupiah.
       Dari keuntungan itulah sedikit demi sedikit saya mengembangkan pertanian brambang (bawang merah)," ujarnya. Ia tidak hanya memenuhi permintaan pasar lokal, tapi juga memasok ke daerah Indonesia Timur. Kini protolan tingkat III Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini memiliki lahan 200 hektar, tersebar di Sukomoro Nganjuk dan Sidowarek serta Plemahan, keduanya di Pare. Tidak cuma bawang merah, Bambang juga menanam cabe seluas 25 hektar di desa Pelem, Pare. Dari total lahan pertaniannya itu, ia biasa mengusung 28 ribu ton bawang merah, dua kali panen. Sedang cabe merah, satu hektar menghasilkan 20 ton. Hasil totalnya mencapai 500 ton per tahun.
      Ironisnya, meski hasil panen bawang merahnya mencapai ribuan ton, sekarang Bambang tak sanggup lagi mensuplai ke kota-kota Indonesia Timur dan beberapa kota besar di Jawa. Bukan lantaran di kota-kota itu sedang dilanda kerusuhan, atau hasil panennya menurun drastis, melainkan untuk kebutuhan sendiri saja, katanya, ia merasa kewalahan. Sejak tahun l991, Bambang memang tak lagi menjual bawang merah mentah.
      Dikemas dengan merek Bagindo, brambang itu digoreng kemudian dilempar ke pasar. "Setiap hari saya membutuhkan pasokan 150 ton brambang mentah," mantan Pengurus Cabang Pelajar Islam Indonesia (PII) Pare itu menjelaskan kebutuhan pabriknya. Melibatkan 150 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 500 ribu/bulan kecuali pegawai kantor Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta --tiap bulan Bambang menghasilkan 30 ton brambang goreng. Dengan merek yang sama, selain brambang goreng, pria kelahiran Pelem, Pare, Kediri ini juga memproduksi sambal pecel.
      Dengan tenaga 50 orang, ia menghasilkan 30 ton sambal pecel per bulan. Untuk produksi sebanyak itu, setiap hari diperlukan pasokan 1 ton kacang tanah. Untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dan pabriknya, pria yang ramah ini menyediakan 20 unit armada angkutan jenis L-300.
Sukses di pertanian dan makanan, mantan pengurus Muhammadiyah Pare ini merambah dunia perbankan. Tahun 1990 ia mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 'Agro Cipta Adiguna'. Sama dengan usaha pertanian dan makanan, BPR-nya juga sukses. Bahkan pernah terpilih sebagai BPR terbaik tingkat nasional, Desember tahun lalu.
     Istiqamah, Sejak kecil Bambang memang sudah terdidik oleh lingkungan keluarganya yang memang petani sekaligus pedagang hasil-hasil pertanian. Ia juga mengaku dapat "ongkos jalan" dari orang tua. "Tapi kecil-kecilan lho, mas", katanya. Ia tidak mau menyebut berapa angka yang dimaksud kecil-kecilan itu. Tapi yang lebih bernilai, menurutnya, secara langsung orang tuanya sering melibatkan dirinya dalam kegiatan jual beli hasil pertanian. Bila ada diskusi-diskusi usaha maupun transaksi, ia kerap dilibatkan. Dari situlah feeling bisnisnya diasah. Kiat menangkap peluang dan kesempatan diperolehnya dari situ.
    Tapi seperti kata dia, dari semua terori-teori praktis yang diajarkan kedua orang tuanya, yang paling memberi arti bagi karir bisnisnya adalah amanah atau dapat dipercaya. "Amanah jauh lebih penting dari modal itu sendiri." katanya. "Modal besar tanpa diiringi amanah bisa jeblok (bangkrut)," tambah ayah empat anak, masing-masing Anton Kusuma Pribadi (23), mahasiswa semester akhir STIE YKPN Jakarta, Diah Ratna Kusumawati, mahasiswa semester I STEI Yogyakarta, Diah Ratih Kusumawati (14), pelajar SMU Muhammadiyah II Yogyakarta dan Yudha Arief Kusuma Pribadi (11), pelajar SD kelas VI SDN I Pare.
      Menekuni usaha pertanian, menurut putra kedua dari lima bersaudara ini, resepnya sama saja dengan usaha lain. "Yang penting istiqamah," katanya. Soal jatuh bangun, itu hal biasa dalam usaha. Seiring perjalanan waktu, bila istiqamah, seseorang bakal menemukan 'jalannya'. Bambang sendiri pernah nyaris bangkrut. Kejadiannya tahun l994, ia gagal panen karena faktor alam. Kerugian yang ditanggung mencapai Rp 1 miliar lebih. "Saat itu saya benar-benar minus. Bila dihitung antara hutang dan jumlah aset, lebih banyak hutangnya," aku pria yang juga memimpin sejumlah yayasan, seperti Yayasan 4 Mei Pare, Apindo (Assosiasi Pengusaha Indonesia), dan Persatuan Penggilingan Padi Kabupaten Kediri.
     Sejak peristiwa itu ia seakan disentakan pada sebuah kenyataan, sepintar-pintar manusia merencanakan, tetap Allahlah yang menentukan. "Di situlah pentingnya kedekatan kepada Allah," katanya mengambil pelajaran, "Saya perlu memperbaiki pengabdian saya." 'Cubitan' Tuhan itu kian menyadarkan Bambang Sumadji untuk berkiprah lebih banyak dalam kegiatan sosial dan keumatan. Setiap tahun Bambang mengeluarkan 15% zakat usahanya dari laba bersih sebesar 500 - 700 juta rupiah. Dana zakat tersebut disalurkan kepada para bekerja pabrik, lembaga-lembaga sosial, serta buruh tani di lingkungan perusahaan.
Sebagai koordinator Kopermas (Koperasi Peran Serta Masyarakat) se-eks karesidenan Kediri dan Madiun, saya punya tanggung jawab memberdayakan ekonomi petani," ujar Bambang.
     Untuk mewujudkan impian itu, Bambang ditarik oleh lembaga swadaya masyarakat PPM (Pusat Peran Serta Masyarakat) Jawa Timur. Lembaga ini berfungsi, di antaranya, sebagai penyalur KUT (Kredit Usaha Tani), pengadaan pangan, penyediaan saprodi (sarana produksi padi), serta menampung hasil panen. "Kami sudah mendapat kepercayaan perbankan untuk menyalurkan KUT," papar ketua Departemen Bisnis ini.
     Masa mendatang, ia optimis prospek pertanian sangat cerah. Kalau selama ini dunia pertanian suram, karena memang sistem perniagaan pertanian yang dikembangkan Orde Baru menjatuhkan harga. "Harga-harganya sangat tidak menarik buat petani," tambahnya. Yang terjadi kemudian, bukan saja pertanian tidak berkembang, tetapi juga banyak petani yang meninggalkan tanah garapannya. Mereka lebih memilih mengadu nasib ke kota-kota besar.
     Tetapi berkat reformasi, katanya, harga-harga hasil pertanian sekarang mengikuti harga internasional. "Nah, sekarang saatnya kembali ke pertanian," kata Bambang yang tahun ini mendapatkan penghargaan The First Asia Executive of the Year
Sumber : wirausaha-online.tripod.com
 http://kisahsukses818.blogspot.co.id/2013/04/petani-istiqamah-beromset-rp-50-milyar.html
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates